HBsAg Positif di Uji Lab, Apa Artinya?

Jakarta, sonaysurucukursu

Tes darah HBsAg digunakan untuk mendeteksi hepatitis B. Jika hasilnya positif, berapakah HBsAg positifnya? Baca uraian berikut untuk memahaminya.

Hepatitis B adalah infeksi hati yang berpotensi mengancam jiwa. Penyakit Penyakit ini disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV).

Seperti dikutip dari laman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), infeksi HBV akan menempatkan orang pada risiko tinggi kematian akibat sirosis dan kanker hati.

Deteksi hepatitis B dilakukan melalui tes darah, yaitu tes darah HBsAg atau antigen permukaan Hepatitis B. Yayasan Hepatitis B menjelaskan, tes ini mampu mendeteksi keberadaan virus hepatitis yang sebenarnya (antigen permukaan) pada darah.

Pusat virus hepatitis B adalah DNA untuk menggandakan diri. Di sekitar DNA, ada protein yang tidak dapat dideteksi oleh tes darah. Lalu bagaimana cara mendeteksi virus tersebut?

Di sekitar virus terdapat ‘amplop’ yang melindungi virus dari serangan sistem imun. Namun, sistem kekebalannya cukup pintar dan bisa melewati virus.

Seperti dikutip dari Kesehatan Sangat Baik, ketika sistem kekebalan mampu melewati ‘amplop’, ada protein antigen permukaan residu yang tertinggal dalam darah seperti puing-puing. Puing-puing inilah yang mampu ditangkap oleh tes darah.

Hasil tes bisa negatif atau positif. Apa itu HBsAg positif?

Hasil positif atau reaktif dari hasil tes menunjukkan seseorang terinfeksi hepatitis B dan dapat menularkan virus hepatitis B kepada orang lain melalui darah.

Hasil HBsAg positif perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan lain untuk menentukan apakah infeksi hepatitis bersifat akut atau kronis.

Kapan Melakukan Skrining Hepatitis B?




Ilustrasi. Ada kondisi tertentu di mana Anda perlu diskrining untuk hepatitis. (iStockphoto/1001Love)

Mengutip halaman Klinik MayoDeteksi hepatitis B tidak harus menunggu sampai ada gejala.

Ada beberapa kondisi di mana Anda disarankan untuk diskrining. Berikut adalah beberapa di antaranya.

– hamil,
– tinggal bersama penderita hepatitis B,
– memiliki lebih dari satu pasangan seksual,
– berhubungan seks dengan penderita hepatitis B,
– memiliki riwayat penyakit menular seksual,
– ODHA atau menderita hepatitis C,
– minum obat yang menekan sistem kekebalan tubuh,
– riwayat penyalahgunaan narkoba,
– tinggal di negara dengan kasus hepatitis tinggi seperti beberapa negara di Asia, Kepulauan Pasifik, Afrika, atau Eropa Timur,
– Hasil tes enzim hati menunjukkan kelainan.

(yang/asr)

[Gambas:Video CNN]


Baca Juga :  Gejala Khusus Omicron BA.4 dan BA.5 Muncul di Malam Hari