Minuman Manis Gaduh, Bagaimana Peraturan di Negara Tetangga?

Jakarta, sonaysurucukursu

Minum manis dengan Gula tambahan sekarang menjadi sorotan. Karena itu, salah satu produk minuman manis cepat saji dianggap terlalu banyak mengandung gula.

Bukan rahasia lagi, asupan gula yang berlebihan dapat meningkatkan banyak risiko kesehatan. Sejumlah penelitian telah membuktikan bahwa terlalu banyak gula dapat memicu kondisi obesitas, penyakit diabetesmenyebabkan masalah yang lebih serius seperti jantung.

Anjuran konsumsi gula harian sendiri sudah diatur dalam Permenkes No. 30 Tahun 2013. Konsumsi gula per orang per hari adalah 10 persen dari total energi (200 kkal).

“Konsumsinya setara dengan empat sendok makan per orang per hari atau 50 gram per orang per hari,” tulis video yang diunggah ke akun Instagram Kementerian Kesehatan RI.

Sayangnya, minuman manis mudah beredar di Indonesia. Tak heran jika kemudian data Riskesdas mencatat peningkatan prevalensi diabetes di Indonesia dari tahun ke tahun. Pada Riskesdas 2018, prevalensi diabetes tercatat sebesar 8,5 persen.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan memperkirakan jumlah penderita diabetes di Indonesia bisa meningkat menjadi 16,7 juta pada tahun 2015.

Ahli gizi UNICEF David Colozza menjelaskan tingginya konsumsi minuman dan makanan manis di Indonesia disebabkan harga yang murah dan regulasi yang lemah.

Hal ini tentu berbeda jika dibandingkan dengan negara lain. Beberapa negara diketahui telah menetapkan peraturan khusus untuk mengontrol konsumsi minuman bergula dengan tambahan gula.

Yang terbaru, pemerintah Singapura akan memberikan label rating gizi pada minuman kemasan yang dijual di pasaran pada Desember 2022. Quotes The Strait Timesperingkat nutrisi ini ditentukan oleh Kementerian Kesehatan Singapura.

“Minuman ringan, jus buah, minuman susu dan yogurt, serta minuman serbuk instan adalah beberapa produk yang akan mendapatkan peringkat ‘Nutri-Grade’, dengan nilai mulai dari A hingga D. D menjadi yang paling tidak sehat,” kata Kementerian Kesehatan. Kesehatan. .

Baca Juga :  Jangan ganti pasangan jika tidak ingin terkena kutil kelamin wanita




Ilustrasi. Sejumlah negara telah menetapkan peraturan ketat terkait minuman manis. (Istockphoto/monticello)

Tak hanya itu, pemerintah Singapura juga telah membatasi iklan minuman manis. Minuman dengan grade C dan D dilarang diiklankan di berbagai platform media.

Selain peraturan tentang pencantuman label nutrisi, beberapa negara juga menerapkan peraturan perpajakan untuk minuman manis. Beberapa negara yang menetapkan aturan ini sebagian besar berada di Eropa seperti Inggris, Italia, Denmark, dan lain-lain, serta sejumlah negara di Amerika.

Inggris, misalnya, mewajibkan produsen minuman berpemanis gula membayar £18 per liter untuk minuman dengan kandungan gula total lebih dari 5 gram per 100 mililiter dan £24 per liter untuk minuman dengan kandungan gula total lebih dari 8 gram per liter. liter.

Apa yang diputuskan Inggris membuahkan hasil. Kutipan Berita Langit, sebuah penelitian menemukan bahwa pengenaan pajak berhasil menurunkan jumlah pembelian gula melalui minuman kemasan di Inggris. Angka pembelian gula mengacu pada jumlah gula yang terkandung dalam minuman kemasan yang dibeli oleh masyarakat Inggris.

Studi Universitas Cambridge menemukan bahwa jumlah minuman ringan yang dibeli tetap sama, tetapi dengan jumlah gula dalam minuman berkurang 29,5 gram.

(del/asr)

[Gambas:Video CNN]